Kajian Rutin – Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid – Bab Lau/menggunakan kata-kata Seandainya

 

S_4818014061222

Kajian Rutin – Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid (Penjelasan Kitab Tauhid)

Abu Haidar As Sundawy

23 Dzulqa’dah 1437 / 26 August 2016

Masjid Darul Ihsan – Telkom – geger kalong

Bab. Lau / Menggunakan kata-kata Seandainya

 

Menggunakan kata-kata seandainya ada yang diperbolehkan dan ada yang terlarang,. Dalil dari ayat Al-Qur’an telah diterangkan dipertemuan sebelumnya,. Sedangkan dalam hadist akan dibahas berikut ini.

 

HADIST PERTAMA

HR Muslim, dari abu Hurairah, Rasulullah berkata:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

 

Penjelasan Kalimat Pertama

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.

Kalimat “dalam keduanya ada kebaikan” diterangkan dalam rangka menghindarkan kesalahpahaman mengenai “tidak ada kebaikan dan kecintaan Allah” pada sesuatu yang dikurangkan dibandingkan perkara yang dilebihkan. Dimana dalam kalimat tersebut “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai” maka untuk menghindari kesalahpahaman bahwa “muslim yang lemah tidak baik dan tidak dicintai” di sebutkanlah bahwa ”Pada kedanya ada kebaikan” <– salah satu lebih baik daripada yang lainnya, namun keduanya telah memiliki kebaikan.

Oleh karena itu bukan berarti bahwa dalam diri seorang mukmin yang lemah tidak ada kebaikan, tetap ada kebaikan namun tidak lebih baik daripada muslim yang kuat.

Contoh, seperti yang disebutkan dalam surah Al Hadid:10

لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu” (QS. Al Hadid: 10)

Apakah jihad dan infak setelah futuh (penaklukan) Mekah baik? Baik, tetapi lebih baik lagi derajatnya untuk yang mengerjakannya sebelum futuh Mekah. Namun kedua golongan  itu dijanjikan Allah balasan kebaikan.

 

Penjelasan Kalimat Kedua

Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu

Ini menunjukkan wajibnya bersungguh-sungguh dalam menjauhi perihal yang dilarang/mudharat sebab di dalam menjauhi perkara mudharat ada manfaat bagi diri kita. Adanya hal yang tidak manfaat dan tidak mudharat membagi kaum muslimin menjadi dua kelompok:

  1. Muktasid / Al abrar: yaitu orang-orang yang simple, sederhada, dalam beramal, hanya melaksanakan yang Wajib, namun yang Sunnah tidak dikerjakan. Hanya menjauhi yang haram tetapi yang makruh dikerjakan, bahkan yang mubah-pun dikerjakan karena menganggap baik sudah terhindar dari yang haram dan tidak mendapat dosa.
  2. (kelompok yang terbaik) Sabiqun bil Khairat / Muqarrabun: yaitu orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Tidak hanya mengerjakan yang wajib tetapi amalan Sunnah juga dilakukan. Tidak hanya menjauhi yang haram tapi juga yang makruh dan mubah dihindari karena tidak mendapat pahala mengerjakan keduanya. Waktunya hanya diisi dengan aktivitas Wajib dan Sunnah, sehingga bila dia mengerjakan hal yang mubah (tidak mendapat dosa ataupun pahala) maka dia merasa rugi dan merasa bersalah.

Maka kemudia dia bertobat. Telah dijelaskan sebelumnya mengenai tobat yaitu ada dua jenis:

Tobat wajib: Tobat dari dosa, baik karena meninggalkan perintah Wajib, atau karena melanggar larangan (mengerjakan yang haram)

Tobat Sunnah: Tobat karena meninggalkan amalan Sunnah, seperti meninggalkan shalat Sunnah Rawathib kemudia dia menyesal dan merasa rugi à bertobat dari meninggalkan amalan Sunnah dengan kemudian mengerjakannya terus tidak meninggalkannya lagi à tobat ini bersifat Sunnah (tidak wajib)

 

Kesungguhan untuk mengerjakan hal yang bermanfaat ini juga sebagaimana dalam hadist:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Berdasarkan hal itu, maka bersungguh-sungguhlah untuk meraih hal yang manfaat dan ini merupakan aplikasi dari Iman kepada Allah (dan hari akhir) untuk berkata yang baik atau bila tidak ada hal baik yang bisa dikatakan maka lebih baik diam <– perwujudan Aqidah kepada Allah dan hari Akhir yang diaplikasikan ke dalam akhlaq (tidak berkata kecuali yang baik).

 

Penjelasan kalimat Ketiga

dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu)

Huruf “waw” dalam kalimat ini memberikan maksud jamak, yaitu menyatu antara poin sebelumnya dengan poin setelahnya à meminta tolong kepada Allah disandingkan dengan kesungguhan (kalimat sebelumnya), sehingga tekad dan kesungguhan didahulukan sebelum bebuat, sehingga saat berbuat mintalah bantuan pertolongan kepada Allah atau disebut dengan Isti’anah –> tolabul ‘aun = meminta pertolongan

Dalam bentuk meminta sesuatu yang baik atau meminta dibebaskan dari suatu keburukan. Dengan Bahasa lisan, meminta pertolonga Allah dalam mengerjakan kebaikan. Janganlah Ujub/bersandar kepada kemampuan diri sendiri/ atau solidaritas team kerja dalam mengatasi permasalahan karena termasuk sifat takabbur, yaitu tawakal kepada diri sendiri yang terbatas dan lemah, Sandarkan kepada Allah, laa haula kuwwata illabillah, Karena Allah Maha Mengatur seluruh urusan, yang pengaturanNya diluar perhitungan, prediksi, dan estimasi manusia.

 

Cara meminta tolong kepada Allah:

Bilisanil maqal = dengan Bahasa lisan

Bilisanil hal = Bahasa tubuh, dalam bentuk amalan Ikhtiyar nyata yaitu amalan syar’i tidak semata-mata amalan hissi.

Ikhtiar hissi: amalan yang dialkukan dimengerti secara logis, real, nyata dan ada hubungan sebab akibat yang dipahami secara logika, misalnya belajar maka menjadi pandai.

Ikhtiar syar’i: mungkin tidak masuk logika namun syariat memerintahkannya, seperti berdoa, melakukan amalan-amalan yang menyebabkan Allah menolong kita walaupun tidak berhubungan secara nyata dan logis dengan permasalahan atau permintaan yang minta. misalnya dengan meniatkan apapun yang dilakukan di dunia (bekerja, belajar, dll) semuanya karena Allah dan akan dipergunakan dalam jalan Allah, misalnya tujuan bekerja untuk dapat bersedekah atau membantu gerakan dakwah agama Allah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

‘Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.’ (QS. Muhammad:7)

bilisanul haal –> Bahasa amalan dengan bahasa tubuh agar Allah menolong kita, maka sering-seringlah dan siap-siaplah kita selalu menolong sesama muslim siapapun muslim itu, yang dalam kesulitan.

Karena Allah selalu siap menolong hambaNya selama hambaNya menolong saudaranya, Al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia adalah sesuai dengan jenis perbuatan mereka).

Misalnya memudahkan urusan orang lain maka Allah akan mudahkan urusan kita. Menutup aib orang lain maka aib kita akan Allah tutup juga di dunia dan akhirat, dst. Dan motivasinya harus ikhlas karena Allah bukan karena ingin dibalas kembali atau diucapkan terimakasih dari orang yang ditolong, yang kita harapkan adalah perhitungan dari Allah, balasan dari Allah, pahala dari Allah. Balas budi manusia tidak seberapa dibandingkan denga balasan dari Allah yang diluar perhitungan manusia. Ini termasuk lisanul haal: permintaan tolong kepada allah dengan amalan.

Apakah meminta tolong kepada Allah sehingga mutlak tidak boleh meminta tolong kepada sesama makhluk?

Meminta bantuan kepada makhluk jika kita tidak mampu melakukan sesuatu tetapi yang dimintai tolong bisa/mampu melakukan, misalnya lemah tenaga mengangkat sesuatu maka kita meminta kepada yang lebih kuat maka ini diperbolehkan. Sebagaimana meminta bantuan anggota tubuh terhadap anggota tubuh lainnya, sangat realistis dan logis, misalnya membawa dua gelas dengan satu tangan berrisiko maka meminta bantuan dengan tangan yang lain, ini sangat logis. Tidak bertolak belakang dengan ayat yang ada dalam surah Al-Fatihah iyyakana’ budu waiiya kanastai’n,.

Makna meminta tolong kepada Allah adalah pada perkara-perkara yang hanya Allah sajalah yang bisa menolong dan memberikan yang kita butuhkan seperti mengabulkan doa, menunjukkan jalan yang benar, meminta dikuatkan iman, meminta jalan keluar disaat kita sudah tidak tau harus bagaimana <– wastain billah (kalimat ke 3)

 

Penjelasan Kalimat Keempat

serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.

Makna: jangan kamu bersikap seperti orang yang memang lemah padahal kamu mampu, seperti malas, pesimis, lemahnya kemauan.

Kadang seseorang bersemangat di awal sebuah amal baik misalnya semangat untuk belajar yang memakan waktu yang panjang seperti belajar nahwu Bahasa arab, ilmu tafsir, ilmu hadist, di awal langkah belajar semangat tapi ditengah-tengah datang syaitan menggoda lalu malas dan jenuh dan bosan ß pasti teralami oleh setiap tolabul ilmi (pencari ilmu termasuk pengajar dan ulama namun mereka sabar ulet dan kuat antisipasinya)

 

Kalimat berikutnya dibahas minggu depan

Bandung, 26 August 2016

Ditulis berdasarkan pendengaran dan catatan saat kajian, mohon dikoreksi apabila ada salah kutip atau salah penafsiran, segala kesalahan dalam tulisan datangnya dari saya, Ustadz Abu Haidar As-Sundawy terlepas darinya.

Semoga bermanfaat.

Advertisements
Categories: Belajar Islam, Catatan Kajian | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: