MERAJUT ISITIQAMAH DALAM BERIBADAH – Kiat – kiat meraih istiqamah – (Kajian rutin)

MERAJUT ISITIQAMAH DALAM BERIBADAH – Kiat – kiat meraih istiqamah –

Ustadz Abu Umar Indra

Masjid Uswatun Hasanah – Rooftop PasarBaru

Kamis 22 Dzulqa’dah 1437/25 Agustus 2016

 

Keutamaan Istiqamah disebutkan dalam surah Fushshilat : 30 Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.

Dan dalam surah Al-Ahqaf : 13:

Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal salih), tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati”.

Alasan mengapa harus istiqamah:

  • Buah manis istiqamah yang dijanjikan Allah: ketenangan hidup, hilangnya kesedihan-kesedihan masa lalu, dan mencabut kegelisahan masa datang, Allah cabut kekhawatiran dan kegundahgulanaan. Ketenangan jiwa dan kelapangan hati beserta kebahagiaan hidup yang tidak otomatis diraih dengan materi dunia. Jika Allah menjamin ketenangan dan kedamaian hidup maka pasti hal itu akan terjadi karena Allah lah yang menetapkan ketenangan itu dalam hidupnya.
  • Merupakan perintah Allah yang hukumnya wajib, sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Huud : 112 Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan [Hûd/11: 112]

Kerugian meninggalkan istiqamah:

  • Berdosa karena meninggalkan perintah (sebagaimana diperintahkan dalam Surah Huud:112)
  • Berdosa akan melahirkan kesengsaraan, tidak akan pernah tenang (di dunia sebelum di akhirat)

Ketidak-istiqamah-an ini kadarnya dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:

  • Dari kewajiban yang ditinggalkannya,

Contoh: Seseorang yang secara sengaja mengakhirkan waktu shalat tanpa ada udzur maka dia termasuk orang yang munafiq; Karakter orang munafiq pada zaman Rasulullah yaitu mereka yang tidak mengikuti Shalat berjamaah dan mengakhirkan waktu shalat. Orang-orang yang meakhirkan waktu shalat ini tidak akan merasakan kebahagiaan shalat diawal waktu dengan berjamaah.

  • Maksiat yang dilakukannya

Contoh: Orang yang menipu dalam jual beli misalnya mengurangi timbangan à tidak istiqamah karena melakukan perbuatan haram. Harta yang didapatkannya dari mengurangi timbangan itu tidak akan berkah, maka kerusakan yang dihasilkan dari ketidak-berkahan itu tidak akan pernah sebanding dengan sedikit harta yang dikumpulkan karena kecurangan.

 

Berikut akan dibahas langkah-langkah untuk menguatkan ke-istiqamah-an (kiat – kiat meraih istiqamah):

  1. Jangan Pernah menjauh dari Al-Qur’an (membaca dan mentadabburinya) sebagai petunjuk dan kabar gembira, sebagaimana dalam Surah An-Nahl:102:

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Al-Qur’an sebagai tali yang sangat kokoh, jalan yang lurus, cahaya yang nyata bagi yang berpegang teguh padanya yaitu dengan membacanya, men-tadabbur-i, kemudian mengamalkannya.

  1. Senantiasa tidak merasa aman dari Mata Allah (merasa selalu diawasi oleh Allah), Allah berfirman dalam Al-A’raf: 97 – 99 :

Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? (97); Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (98); Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi (99)

Ibnul Qayyim menyebutkan: ”Sesungguhnya seorang hamba telah mengetahui bahwa Allah yang membolak-balikkan hati, memberi hukum apapun yang Dia kehendaki, memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki, maka apakah kita bisa memastikan bahwa hati kita tidak dipalingkan kembali kepada keadaan sebelum beriman/sebelum diberi hidayah?”

Maka jangan merasa aman dengan keadaan (bersantai-santai), karena Allah dapat membolak-balikkan hati.

Nabi bersabda, “ada seorang hamba yang ia mengucapkan suatu kalimat yang dia rasa itu ucapan yang sebepe tetapi ucapan itu yang memasukkan ia ke neraka yang jauhnya seperti antara timur dan barat”

  1. Banyak berdo’a agar terus bisa Istiqamah, dan meminta diteguhkan hati. Maka curahkan selalu perhatian kita untuk memohon kepada Allah agar Allah senantiasa mengikat hati kita di atas Agama-Nya. Hati ini lemah sementara fitnah (ujian, cobaan) menyambar-nyambar dan syaitan senantiasa mengintai untuk menyesatkan manusia.
  • Ali Imran : 8

(Mereka berdo’a), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”.

  • Al-Baqarah : 250

…., “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”.

  • Do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah

Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbiy ‘alaa diniik

Wahai dzat yang Maha Membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.

  1. Menolong Agama Allah dan menolong para Wali Allah (dari kalangan orang bertaqwa)

Al-Qur’a, Surah Muhammad : 7, Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

“meneguhkan kedudukan” ini berarti dijaga dalam jalur yang benar.

Beberapa jalan-jalan menolong agama Allah:

  • Talabul ‘ilmi (menuntut ilmu); beberapa keutamaan menuntut ilmu syar’i adalah akan diliputi rahmat, dinaungi malaikat, diberikan ketenangan dalam beramal, menimbulkan pikiran jernih dan inspiratif.
  • Mengamalkan ilmu yang sudah diketahui, sehingga dapat menjadi syiar agama.
  • Berjihad menghadapi orang-orang kafir, munafiq dan yang berbuat maksiat = amar ma’ruf nahi munkar. Diantara caranya adalah rajin berdakwah, berteman dengan orang-orang shaleh (karena agama seseorang itu bisa dinilai dari agama teman dekatnya, termasuk keluarga, suami/istri)
  • Memberikan bantahan-bantahan, membongkar kekeliruan dari apa yang dikeluarkan oleh orang-orang kafir, kufur, dan munafiq. Seperti terhadap pendapat-pendapat orang syi’ah yang tidak menghormati istri-istri Rasulullah, padahal telah disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab : 6

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka, ……

  • Mencurahkan kesungguhan dalam jalan Allah dan berinfaq dalam kebaikan
  • Membela para ulama, para da’i, dan para ustadz ahlussunnah.
  1. Kembali kepada kepada para Ahli Ilmu (Ulama), kembali kepada para ulama karena mereka adalah tameng dari fitnah dunia yang semakin besar. seperti imam Ibnul Qayim yang menemui guru beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ibnul Qayyim berkata, “Ketika kami ditimpa rasa takut dan kegelisahan maka kami mendatangi guru kami Ibnu Taimiyyah. Kami tidak melakukan apapun kecuali memandang dan mendengarkan nasihatnya dan seketika itu juga kegelisahan tersebut berubah menjadi ketenagan batin”.

  1. Meninggalkan Kezhaliman

Seperti yang difirmakan Allah dalam surah Ibrahim : 27

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Kezaliman disini bisa berupa zalim kepada orang lain atau zalim terhadap diri sendiri.

  1. Kuatkan kesabaran dan ketakwaan (dalam melaksanakan perintah, meinggalkan larangan), jangan tergoda iming-iming perhiasan dunia. Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi : 28

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadannya sudah melewati batas.

  1. Senantiasa berzikir / mengingat Allah, maka hati akan tenang, Firman Allah dalam Ar-Ra’d : 28

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.

 

Bandung, 26 August 2016

Ditulis berdasarkan catatan saat menghadiri kajian, mohon dikoreksi apabila terdapat kekurangan,  kesalahan ketik, kesalahan kutip, dan lainnya. Kesalahan yang terdapat dalam tulisan ini murni dari saya, Ustadz Abu Umar Indra terlepas darinya.

Semoga bermanfaat

Advertisements
Categories: Belajar Islam, Catatan Kajian | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: