KIAT MENGHADAPI KESEDIHAN

Ust. Abu Haidar As-Sundawy – Masjid Al-Furqan – Jl. Jurang

Ahad, 24 Dzulqa’dah 1437/28 Agustus 2016

 

Definisi sedih, dalam kamus Bahasa arab:

  1. hazanun
  2. huznun

Secara Bahasa,  sedih adalah lawan dari gembira, menurut pendapat lain “al huzn”  atau “Al ham” berarti ketidaknyamanan hati, ketidaktenangan hati, risau, galau, baik oleh sebab yang diketahui atau tidak diketahui.

Al hazn/huzn : kesedihan oleh ada sebab yang diketahui kerna terjadi pada masa yang sudah lewat, peristiwa, muslibah atau kerugian yang sudah terjadi

Al hahm : karena kekhawatiran terhadap masa yang akan datang, atau kejadian yang belum terjadi

Di dalam Al-Qur’an dan hadist sering disebut mengenai kesedihan, ada yang berupa berita kesedihan seseorang, ada yang bernada larangan agar kita tidak perlu bersedih. Seperi firman Allah Ta’ala dalam Surah Ali Imran 139:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”

Dalam ayat tersebut Allah melarang kita untuk bersedih. Sebagai mana Allah melarang kepada Nabi Shalallu’alaihi wasallam untuk bersedih karena kejahatan musuh-musuh beliau, konspirasi-konsprirasi orang kafir terhadap beliau, atau karena makar (rencana jahat) terhadap beliau. Sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nahl: 127,

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

Kejadian serupa ini akan selalu muncul setiap jaman, dimana ada orang yang menyebarkan kebenaran maka akan selalu ada pula orang yang melawan dan menghalangi orang tersebut dan menyusun makar (rencana jahat), tapi Allah berkata jangan khawatir karena Allah tidak akan diam, Allah juga membuat makar terhadap mereka.

Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, Allah tidak diam, Allah semakin menyempurnakan cahayanya. Seperti pula dakwah semakin dibendung semakin melebar semakin melebar, bukannya padam tetapi nyalanya semakin besar dan semakin berkobar cahayanya.

Namun terkadang sebagai manusia, sesuatu yang manusiwai jika pribadi menjadi sedih, sempit, sumpek mendengar omongan mereka yang membuat munculnya kesedihan hati, Allah mengetahui mengetahui hal tersebut. Al-Qu’ran Surah Al-Hijr 97-98:

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan,(97) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),(98)”

Faidah: saat hati sedih, sumpek, sempit akibat perkataan orang lain maka perbanyaklah mengingat Allah/berzikir kepada Allah, bertasbih dengan memujiNya, dan bersujud kepadaNya.

Saat nabi bersembunyi di gua Tsur saat akan berhijrah ke Madinah, seluruh kepemimpinan bangsa arab sudah membuat rencana pembunuhan, Nabi pun berdua dengan Abu Bakr besembunyi dalam gua tersebut, Beliau menghibur Abu Bakr untuk tidak bersedih sebagaimana diceritakan dalam Surah At-Taubah : 40:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Jadi dapat diketahui bahwa bersedih itu sesuatu yang dilarang oleh Allah, karena ituah Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam pun sering berdoa untuk berlindung kepada Allah dari kesedihan. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah:

// Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…//

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnul Qayyim mengatakan: Allah tidak memerintahkan untuk bersedih, juga rasul-Nya, bahkan Allah telah melarang dalam beberapa ayat, apabila tidak berkaitan dengan urusan agama. Allah dan rasulnya telah melarang dari kesedihan karena tidak bisa meraih manfaat dan tidak bisa pula menolak mudharat .

Ibnul Qayyim juga menjelaskan karena kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya.( Madaarijus Saalikiin hal: 1285).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10].

Saat mengalami kesedihan, hati lebih mudah digoda oleh syaitan, sehingga kesedihan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak bermanfaat, tidak memberi maslahat.

 

Adapun yang dimaksud dengan tidak boleh bersedih, apakah berarti bersedih itu dosa?

Bersedih merupakan suatu kewajaran jika mendapat musibah, merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat-saat tertentu. Namun tidak berdosa, yang berarti maknanya adalah:

Jangan melakukan mengatakan sesuatu yang menimbulkan kesedihan, kesedihan merupakan posisi saat iman seseorang melemah,. Misalnya saat menceritakan kesedihan masa lalu sehingga membuat kesedihan muncul kembali, karena kesedihan itu bagaikan api dalam sekam << maka hal ini tidak diperbolehkan karena membuat terhalang dari kewajiban dan dari aktivitas yang penting, tidak membuat semangat melakukan apa-apa yang bermanfaat.

Syaikh Utsaimin pernah ditanya: “boleh kah menyimpan foto2 orang yang dicintai yang sdh meninggal?” Beliau mengatakan: “tidak boleh, bakarlah” – karena disaat melihatnya akan menimbulkan kesedihan kembali, menangis kembali, sehingga menimbulkan tidak semangat beraktivitas bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sehingga jangan mengungkit-ungkit kesedihan dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kesedihan.

Sebagian orang mengatakan sedih itu bagus dan menjadi cara mendekatkan diri kepada Allah, ini merupakan kesalahan dan kekeliruan, bagaimana mungkin sesuatu yang di larang oleh Allah dapat menjadi cara mendekatkan diri kepada Allah?

Kesedihan adalah salah satu musibah, Allah menguji sesorang dengan musibah, jika diberi musibah kemudian dilalui dengan sabar maka akan di cintai Allah, yang disukai Allah adalah sikap sabarnya bukan sedihnya.

Adapun yang membolehkan bersedih dengan berdasar kepada Hadist lain:

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang didalam hati seorang hamba itu ada rintihan (tangisan) dan jika Allah membenci seorang hamba maka Allah menjadikan mizmar (bunyi seruling, bersenandung, musik) di dalam hatinya”

maka dijelaskan / dibantah bahawa rintihan yang dicintai adalah rintihan tobat kepada Allah, menyesali dosa-dosanya, bukan rintihan yang Merupakan wujud keputus asaan terhadap ujian yang diberikan oleh Allah. Rintihan wujud keputus-asa an tidak diperbolehkan. Sebagaimana di sebutkan dalam hadist berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: 
1.    Pemimpin yang adil. 2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya. 
3.    Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid. 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. 5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. 6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. 7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” 
(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

Diperbolehkannya menangis karena mengingat Allah dalam keadaan sendiri, atau karena bertobat dan menyesal atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya.

Sedangkan orang yang dibenci oleh Allah maka dihatinya disisipkan oleh Allah nyanyian-nyanyian, senandung-senandung musik hingga sampai meresap kedalam hati dan raganya.

 

Adapun jika seseorang mengalami musibah kemudian menangis dan bersedih (karena sifat manusiawi), maka tidak berdosa dan tidak pula melahirkan pahala, yang dapat menghasilkan dosa dan pahala adalah cara mengantisipasi dan mengatasi kesedihannya itu.

Tidaklah berdosa orang yang bersedih kalau ketika sedihnya tidak melakukan yang haram. Jika yang dia lakukan ketika sedih adalah berdoa dengan doa-doa yang diajarkan oleh hadist-hadist shahih maka kesedihannya tersebut melahirkan pahala. Sesungghnya mata boleh menangis hati boleh bersedih tetapi jangan sampai kita tidak berkata apapun yang tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Jika salah mengantisipasi dan mengatasinya maka dapat menjadi berdosa.

 

Kesedihan yang dipuji dan bernilai ibadah?

  • Sedih ketka melihat ujian terhadap agamanya (baik dalam dirinya atau diluar dirinya), misalnya sedih saat hilangnya hapalan beberapa ayat, hilang (karena tidak dapat melakukan) beberapa amalan yang disyariatkan, melihat cobaan dari orang-orang kafir terhadap agama, atau melihat kaum muslimin tidak melakukan syariat agama lagi, atau sedih melihat kota lain, negara lain yang sedang digempur dan kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Maka akan dipahalai seseorang yang di dalam harinya ada kecintaan terhadap kebaikan dan kebencian dengan keburukan, dan bersedih ketika kebaikan hilang atau keburukan muncul dia bersedih, baik di dalam dirinya atau di luar dirinya.
  • Seorang bisa mencintai kesedihan karena efek baik yang lahir dari kesedihan itu dengan syarat seluruh efek buruknya bisa dihilangkan/dihindari seperti menjadi pasif, tidak semangat, tidak bergairah lagi melakukan kebaikan. Efek baik kesedihan minimal adalah menjadi salah satu pengugur dosa, media kesempatan untuk bersabar yang mana mengandung banyak pahala dan kebaikan. Sehingga sebagian orang mencintai kesedihan karena efek baiknya tersebut. Hanyalah Allah beri pahala tanpa hisab/perhitungan kepada orang yang sabar.

Bukankah Rasulullah  –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.

Tidak ada sesuatupun menimpa seorang mukmin baik itu rasa wasbun/sakit (lieur, pusing pening, sumpek dll) ataupun nasobun/kelelahan (terlebih lagi lelahnya dari ibadah, bekerja untuk ibadah, dan mengerjakan sesuatu yang diniatkan ibadah) ataupun penyakit, ataupun kesedihan, ataupun keresahan (gelisah), kecuali Allah akan menghapus dosa orang itu melalui hal-hal tersebut.

 

Kesimpulan, Untuk mengatahsi kesedihan, maka seorang mukmin sebaiknya:

  1. Mengingat Allah/Berzikir kepada Allah, bersujud kepada Allah (Shalat)
  2. Berdoa kepada Allah , meminta berlindung dari kesedihan, sebagaimana do’a Nabi Salallahu’alaihi wasallam
  3. Jangan mengungkit-ungkit kesedihan dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kesedihan
  4. Lalui musibah atau kesedihan dengan sabar dan ikhlas agar menjadi pahala
  5. Tidak berlarut-larut dan meratap sehingga mudah dibisik-bisiki oleh syaitan untuk melakukan sesuatu yang tidak di ridhoi Allah

 

Bahan bacaan lain:

https://rumaysho.com/3131-ujian-dan-musibah-tanda-allah-cinta.html

https://muslim.or.id/26272-janganlah-bersedih.html

https://rumaysho.com/1475-tidak-perlu-bersedih-hati-atas-musibah.html

https://rumaysho.com/2393-sedih-yang-tercela-dan-terpuji.html

Demikian tulisan ini dibuat berdasarkan kajian rutin Ahad Pagi di Masjid Al-Furqan Jl. Jurang Bandung (jadwal seharusnya Kajian Syarah Riyadush Shalihin, namun berhubung bukunya tidak terbawa oleh Ustadz Abu Haidar, sehingga topik yang dibahas adalah mengenai kesedihan).

Mohon dikoreksi jika ada salah ketik, salah kutip, atau salah penjabaran,dalam tulisan semata-mata salah dan khilaf saya, Ust. Abu Haidar As-Sundawy terlepas darinya.

 

Semoga bermanfaat,

Bandung 28 agustus 2016

 

Advertisements
Categories: Belajar Islam, Catatan Kajian | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: